Bagaimana Orang Jepang Mengurus Sampah

SETIAP orang yang berkunjung ke Jepang selalu tidak lupa menyatakan keheranannya karena kebersihan kotanya. Di luar kota juga bersih! Menurut penglihatan saya tidak banyak negeri yang dalam hal kebersihan menandingi atau melebihi Jepang. Belanda, Perancis, Inggris, dan Amerika juga, negeri yang kotor dibandingkan dengan Jepang. Jerman termasuk bersih dan Swiss lebih bersih lagi. Dalam beberapa hal kebersihan Swiss memang melebihi Jepang.

Di Swiss misalnya saya pernah melihat truk yang khusus membersihkan jalan dengan menyemprotkan air dan "mengepelnya". Di Jepang hal seperti itu tak pernah saya lihat. Tak percuma Swiss terkenal sebagai negeri yang menjadi tujuan kaum turis. Saya dengar negara-negara Skandinavia juga bersih, tetapi saya belum pernah berkunjung ke sana jadi belum menyaksikannya dengan mata sendiri.

Dahulu di kota-kota Indonesia, sering terbaca larangan "Jangan membuang sampah di sini", tetapi tak disediakan tempat untuk membuang sampah, sedangkan di Jepang di mana-mana disediakan tempat sampah sehingga orang tanpa diperingatkan juga akan membuang sampah di tempatnya. Namun, hal itu sebenarnya merupakan hasil pengajaran: sejak kecil anak-anak dididik untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Mereka akan mencari tempat pembuangan sampah kalau ada yang hendak mereka buang. Kalau di sekitar mereka tak ada pembuangan sampah, mereka akan membawa sampah itu, kalau perlu dimasukkan ke dalam tasnya untuk kemudian dibuang di tempat sampah
yang terdekat.

Gerakan kebersihan sering diadakan juga, tapi bukan berupa perintah dari pejabat yang bersangkutan. Sering merupakan kegiatan yang timbul dalam masyarakat. Seorang atau sebuah organisasi mengambil pokal (inisiatif) untuk misalnya mengadakan gerakan pemungutan tutup botol minuman yang sering dibuang begitu oleh orang yang membuka minuman itu.

Mereka mengerahkan orang-orang yang secara sukarela memungut tutup-tutup botol itu dan mengumpulkannya. Ternyata jumlah tutup botol memang kecil dan sering tidak mendapat perhatian itu cukup banyak juga yang berserakan bukan pada tempatnya. Kali yang lain saya baca di surat kabar bahwa ada sekelompok orang yang mengajak bersuka rela untuk memungut serpihan logam penutup minuman kaleng yang sering setelah dibuka lantas dibuang begitu saja.

Barang itu kecil sekali, tetapi setelah dikumpulkan ternyata cukup banyak juga. Para pengusaha minuman kalengan kemudian mencari jalan, sehingga kalau minumannya dibuka tutupnya tidak terlepas dari kalengnya sehingga tidak menjadi sampah yang bisa dibuang di mana saja. Peritsiwa itu menunjukkan bahwa semua pihak di Jepang merasa ikut bertanggungjawab menjaga kebersihan dan lingkungan agar tidak terusak oleh sampah. Hanya puntung rokok yang saya lihat masih berserakan di mana saja karena para perokok menganggap ruangan sekelilingnya sebagai asbak.

Akan tetapi, selama saya di Jepang gerakan antirokok kian meluas sehingga sekarang bukan saja tersedia gerbong-gerbong shinkansen yang non-smoking, mula-mula satu, tapi sekarang sudah ada beberapa (kereta biasa atau densa dan kereta bawah tanah atau chikatetsu sudah lama melarang penumpangnya merokok), melainkan juga sewaktu-waktu ada razia terhadap para perokok di beberapa wilayah di Tokyo yang dinyatakan bebas rokok. Mereka yang tertangkap didenda 2.000 yen (sebagai perbandingan : harga sebungkus rokok sekira 150 yen).

Juga di pesisir dan pinggir-pinggir sungai, orang tidak membuang sampah sembarangan. Memang kadang-kadang kita jumpai juga kaleng bekas minuman; tetapi hal itu sering disebabkan karena pemerintah kota lupa menyediakan tempat sampah untuk menampungnya. Kaleng dan botol minuman memang banyak sekali karena di setiap tempat ada saja vending machine yang menyediakan minuman sehingga orang di mana pun juga dapat memuaskan dahaganya, tak usah berlari-lari dahulu mencari warung.

Bahkan, di kaki gunung yang terpencil, ada saja vending machine menyediakan kelana yang kehausan. Dahulu telefon umum juga terdapat di mana-mana sehingga saya pernah mengalami bahwa mau menggunakan telefon umum di pinggir hutan di Jepang lebih mudah daripada mencari telefon umum di tengah Kota Paris. Namun, sekarang setelah telefon genggam ditemukan, jumlah telefon umum kian berkurang. Bahkan, di kota-kota bagian yang ramai pun kian sedikit saja telefon umum terdapat.

Dahulu menjadi ciri khas stasiun atau kota-kota di Jepang ialah banyaknya jumlah telefon umum yang dicat warna merah, kemudian dicat warna hijau juga dan di tempat telefon umum itu selalu berderet orang-orang yang antre menunggu kesempatan bicara. Sekarang orang dengan HP-nya bicara di mana saja, sambil jalan, sambil makan, sambil minum-minum atau sambil duduk dalam kereta meski di beberapa kota ada larangan menggunakan telefon genggam kalau sedang berada dalam kendaraan seperti kereta api bawah tanah.

Pendidikan harus dimulai sejak kecil dalam rumah, kata orang. Kebenaran pendapat itu kita saksikan di Jepang. Anak-anak sejak kecil dididik untuk selalu berkata benar dan tidak boleh berbohong, selalu tepat waktu, selalu memerhatikan kebersihan dll. Setelah dewasa mereka secara konsisten mengikuti ajaran yang ditanamkan sejak kecil dan yang contohnya dengan mudah mereka lihat dalam kehidupan nyata sekelilingnya.

Sampah dari rumah-rumah, biasanya diangkut oleh truk khusus untuk itu dua kali seminggu. Setiap wilayah bergiliran harinya. Truk-truk yang dilengkapi dengan alat penggilas yang segera menghancurkan sampah yang dilemparkan ke dalamnya itu disediakan oleh pemerintah daerah. Sampah-sampah harus dimasukkan ke dalam plastik yang disediakan gratis juga yang biasanya bisa diminta di toko beras.

Pada hari yang telah ditetapkan, sampah-sampah dalam bungkusan plastik itu harus dikumpulkan di tempat yang sudah ditentukan atau ditaruh di pinggir jalan di dekat rumah yang bersangkutan, agar mudah diambil oleh petugas yang akan melemparkannya ke atas truk.

Sampah-sampah besar (misalnya lemari bekas, televisi, sepeda dan semacamnya) biasanya boleh dibuang sebulan sekali pada hari yang dtentukan. Biasanya sebelum barang-barang itu diangkut oleh truk untuk dibuang, ada orang-orang yang datang melihat-lihat barangkali ada barang yang dia perlukan. Ada juga orang yang datang sambil menmbawa pik-up untuk mengangkut barang-barang yang hendak dia manfaatkan. Mungkin memang pekerjaannya mengumpulkan barang-barang bekas yang dibuang.

Barang-barang yang dibuang itu memang tidak selalu barang rusak yang tak bisa dipakai lagi. Banyak yang terpaksa dibuang oleh siempunya karena dia membeli barang yang sama model yang baru, sedangkan di rumahnya (yang memang sempit) tak ada tempat untuk menyimpannya. Televisi atau lemari yang dibuang mungkin masih baik dan masih bisa dipakai. Saya sendiri waktu hendak pindah dari rumah lama yang merupakan rumah model Jepang yang luas dan dua tingkat masuk ke apartemen yang lebih kecil dan lebih sempit, terpaksa membuang banyak barang yang sebenarnya masih baik dan masih bisa dipakai baik televisi, rak-rak buku, lemari, sepeda dan semacamnya.

Dan karena jumlahnya banyak, tak bisa dibuang di tempat biasa membuang sampah besar sebulan sekali. Kami harus menggunakan jasa tukang buang sampah dan untuk itu kami harus membayar 85.000 yen! Apa boleh buat!

Mobil atau motor pun tak boleh dibuang sembarangan dan untuk itu si empunya harus mengeluarkan uang untuk pelayanan jasa perusahaan yang khusus untuk itu. Memang kadang-kadang ada juga orang yang nakal yang meninggalkan mobil atau motornya di tempat yang jauh ke mana-mana setelah mencopot nomor polisi dan nomor mesinnya supaya tidak terjejaki. Kalau ketahuan, niscaya dia harus membayar denda yang jumlahnya lumayan.

Entah harus dimulai dari mana kalau kita berdiskusi menyelesaikan masalah sampah dan kebersihan di Indonesia. Yang jelas, untuk saat ini janganlah dulu membandingkan Indonesia dengan Jepang, Swiss, atau Jerman : tidak kuat kita menahan malu sebagai orang Indonesia, apalagi seorang muslim !

Masyarakat kita harus diakui belum terdidik disiplin hidup bersih. Pendidikan hidup bersih di negara maju memang sudah diajarkan sejak kecil. Dari tempat penitipan anak dan play group! Bagaimana makan, membuang sampah pada tempatnya, bagaimana menata meja belajar, ke kamar mandi, tidur siang, dll, mulai dari sebelum sekolah hingga pulang ke rumah. Jadi wajar saja, kebersihan bagi mereka terasa sebagai kebutuhan dari kecil, bukan sekedar keindahan.

Jangan heran, anak kelas tiga 'Schule' (SD-nya Jerman) bisa jadi banyak yang belum lancar baca, karena sekolahnya seharian seperti itu : makan bareng, nyanyi, main, tidur siang dan diajarin etika di fasilitas umum (misal di jalan raya,WC, kereta, bus, theater, dll). Seharian diajari disiplin penuh. Di ajari menyusun sendiri jadwal belajar masing2. Di Indonesia, anak kelas satu saja sudah bisa baca, apalagi kelas tiga, tapi sayang banyak yang masih kolokan, jorok, dll.

Sehingga bukanlah hal yang membebani mereka kalau mereka akhirnya harus 'diatur' untuk hidup bersih, hidup tanpa sampah dan rokok. Bagi orang Indonesia, tingkatan untuk mentaati peraturan : 'Buanglah sampah pada tempatnya ' - saja sulitnya luar biasa ! Padahal di Jerman, orang bukan hanya diatur membuang sampah pada tempat sampah, tapi juga diharuskan membuang sampah di tempat sampah yang sesuai dengan jenis sampahnya.

Ada tempat sampah khusus sampah biodegradable dan nonbiodegradable, sampah kertas, sampah plastik, sampah rumah tangga (makanan) ,dll ( bahkan ada sampah untuk sampah plastik berwarna (merah, hijau,dll) dan tak berwarna/bening! Bagi orang kita, sepertinya hidup 'diatur' seperti ini masih susah ! Pernah suatu ketika, ada seorang petugas sampah 'balikin' keranjang sampah ke orang2 Indonesia ( waktu itu ada acara bersama orang Indonesia di kota di Jerman), karena sampah2 milik orang Indonesia ini belum disortir sesuai jenisnya. Betapa malunya kita jadi bangsa yang tidak tahu aturan disiplin !

( Sekedar info, Mahasiswa2 Indonesia di negara2 maju benar2 telah menjadi penemu -penemu ulung, dalam arti sesungguhnya ! Penemu TV, penemu meubel, penemu monitor, dll, yg merupakan sampah orang2 bule ! )

Mau beli mobil pembersih jalan untuk jalan2 di Indonesia juga sepertinya percuma saja, masyarakat sepertinya belum butuh kebersihan dan petugas kebersihannyapun tidak termotivasi dengan penghasilan yang layak.

Di Jerman, jangankan di kota2 besarnya, di pelosok2 'kampung' ' adanya mobil pembersih jalan kebersihan adalah 'sebuah kebutuhan bersama, baik pembersih untuk debu maupun pengeruk salju ketika winter, yang petugasnya bergaji besar dan terjamin 'masa depannya' dengan berbagai tunjangan. Maka wajar, sebelum jam orang pergi ke tempat kerja dan sekolah, jalanan sudah bersih. Bersih dari debu waktu summer dan bersih dari salju (dengan ditaburi pasir/ kerikil halus) waktu winter. Polisi2 yang tidak bisa 'ditempeli ' juga selalu siaga menghukum & mendenda orang merokok yang bebas berkeliaran di tempat2 umum seperti stasiun.

Tantangan alam membuat orang jadi disiplin ! Di Indonesia, apa pentingnya seorang tukang bersih jalan, misalkan, atau mobil pembersih debu. Bayangkan, di negara bersalju seperti Jepang, Jerman, Swiss, dll, kalau tidak disiplin membersihkan jalan, berapa banyak terjadi kecelakaan di jalan raya (karena mobil bisa 'slip' waktu salju).

Padahal, ajaran hidup bersih dalam Islam sudah jelas. Anjuran 'mereduksi sampah' (dengan makanan cukup, tidak hura2,boros, dsb) juga sudah pada tahu.
Mudah2an modal rasa malu kita membuat kita lebih sadar.

Pemerintah Tetapkan Awal Ramadhan, NU Baru Ikhbar Besok

Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama telah menetapkan awal Ramadhan 1430 Hijriyah pada Sabtu 22 Agustus 2009. Ketetapan ini berdasarkan hasil rukyatul hilal pada tanggal 29 Sya’ban hari ini di beberapa titik di Indonesia tidak berhasil menyaksikan hilal (bulan sabit), sehingga diadakan istikmal atau penyempurnaan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

”Dengan ini sidang itsbat menetapkan tanggal satu Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009,” kata Menteri Agama Maftuh Basyuni membacakan keputusan hasil sidang itsbat. Sementara itu NU baru mengumumkan awal Ramadhan (ikhbar), Jum’at (21/8) petang setelah diadakan rukyatul hilal.

Seperti diberaitakan sebelumnya, rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan 1430 H Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama baru akan diadakan Jum’at karena berdasarkan hasil rukyat awal bulan Sya’ban kemarin, Kamis hari ini masih menunjjukkan tanggal 28 Sya’ban .

Menurut Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH Ghazalie Masroeri, penentuan awal bulan baru bisa diketahui setelah diadakan di sedikitnya 55 titik rukyatul hilal Lajnah Falakiyah seluruh Indonesia pada Jum’at petang.

Jika tidak ada halangan syar'i, kata Kiai Ghazalie, berupa awan penghalang dipastikan hilal (bulan sabit) akan terlihat karena ketinggian hilal sudah hampir 12 derajat dan jarak Bulan dengan Matahari 7 derajat. Pada posisi ini hilal akan mudah terlihat.

Jika demikian, NU dan pemerintah akan mengawali Ramadhan pada hari yang sama meskipun berbeda jumlah hari untuk bulan Sya'ban. (nam)

sumber : NU Online

Download Video Marshanda marah marah

Kesuksesan yang telah di raih seseorang agaknya tidak menjamin seseorang itu bahagia. tak terkecuali artis sekalipun, sekalipun sudah meraih kesuksesan artis marshanda memendam kekecewaan kepada teman temannya sewaktu SD. kekecewaan itu di tumpahkan lewat dunia maya.

video ini heboh di beberapa infotainment stasiun tv swasta. ketika di konfirmasi mengenai keberadaan video tersebut seorang manager marshanda mengaku kalo marshanda sedang tidak labil. hal itu wajar sebagai seorang manusia karena semua orang juga mesti demikian dengan berbagai cara menumpahkan isi hatinya.

Kendati sudah sempat di hapus dari oleh yg pertama mengupload namun agaknya sudah ada yg mendownloadnya terlebih dahulu. sehingga video tersebut masih tetap ada. berikut video yg masih ada.